Sabtu, 27 September 2008

Short (2008)

I told you, didn't I?
Short is the best invention
In the entire human civilization

Manila 2008

Sabtu, 17 Mei 2008

Hikayat Lebah Ratu (2008)

Ketika Bung Nirwan Dewanto memberitahu saya rencananya meluncurkan Jantung Lebah Ratu, reaksi saya ada dua. Pertama, saya sadar: saya ini awam puisi, bahkan tidak mengerti dunia puisi. Kedua, judul koleksi Bung Nirwan mengingatkan saya kepada sebuah artikel dalam Journal of Law and Economics tahun 1973, "The Fable of the Bees: An Economic Investigation" (Hikayat Lebah: Sebuah Penyelidikan Ekonomi) yang ditulis oleh Steven Cheung.[1]

Hikayat Lebah-nya Cheung adalah kritik terhadap kisah. Tepatnya, penggunaan kisah untuk argumentasi. Ideologi mungkin bukanlah asing dalam perjalanan ilmu, termasuk ekonomi. Namun ia tidak musti sakral. Ia butuh bukti teoretis atau empiris. Argumentasi pun dibubuhi kisah dan hikayat. Mudahnya ekonom menutur kisah demi memperkuat argumennya mengusik Cheung. Dua puluh tahun sebelum Cheung ekonom James Meade berkisah dan berhujjah: pemerintah perlu memberikan subsidi kepada peternak lebah, karena  lebahnya, selain membuat madu, juga menyerbuk apel di tetangga sebelah. Tanpa subsidi, jumlah madu dan nektar terlalu kecil.[2] Kisah itu setali tiga uang dengan kisah Arthur Pigou, tiga puluh tahun sebelum Meade. Tentang sebuah pabrik dengan polusi yang mengganggu masyarakat di sekitarnya tanpa ada kompensasi dari pemilik pabrik. Pigou berkata, pemerintah perlu mengenakan pajak polusi, agar udara kembali jernih. Tanpa pajak, jumlah sulfur dan karbon terlalu besar.[3]

Steven Cheung ragu. Benarkah kisah-kisah itu? Kuatkah mereka mendukung argumen-argumen di atas mereka? Cheung kuatir, Pigou dan Meade telah terlalu tergesa-gesa. Maka ia pun turun, bertemu bercengkerama dengan sejumlah peternak lebah dan petani apel. Dan ia menarik nafas. Tanpa pajak dan subsidi, pasar telah bekerja di antara peternak lebah dan petani apel. Dalam musim ketika penyerbukan tidak diperlukan, peternak lebah membayar petani apel agar lebah si peternak boleh berumah di kebun si petani. Dalam musim sebaliknya, petani apel yang membayar peternak lebah agar para lebah sudilah menyerbuk ke sana. Pesan dari Cheung jelas: jangan buru-buru memutuskan. Datang dan lihatlah.

Begitulah yang saya ingat.

Karenanya, ketika Bung Nirwan mengirimkan Jantung Lebah Ratu, saya kira saya akan membaca puisi-puisi lebah bernada Cheung: kepercayaan kepada mekanisme alam, yang dipertegas oleh mata dan telinga telanjang. Tentang kehatihatian memberi ruang kepada kesimpulan manusia. Puisi-puisi yang memberi kredit sepantasnya kepada lebah dan nektar: bahwa ada pasar di antara mereka.

Ternyata. Sungguh lebih dari sekedar itu.

Membaca Bung Nirwan membuat saya terhenyak lemas. Betapa lebih besar ketidaktahuan saya. Saya ingat: sempat saya pernah bersombong dan menyangka diri punya sedikit, ya sedikit saja, keunggulan komparatif dalam membaca sastra di antara murid-murid ekonomi (sekalipun mungkin hanya menang lebih duluan membaca Ahmad Tohari dan Sapardi Djoko Damono).

Saya salah, rupa-rupanya.

Dan Jantung Lebah Ratu menegaskan itu. Ini berbahaya: lebih memalukan daripada prediksi makro yang meleset.[4] Bahkan kosakata pun banyak yang tidak saya pahami -- kalau bukan cerminan dari kekurangakraban dengan kamus. Ada ara-ara, pring, balam, alah, kalis, nyiru. Lalu terwelu, bengkarung, obsidian. Beginilah kalau hidup serba kering hanya dengan inflasi, insentif, dan regresi: baca puisi mati rasa. Celakanya lagi, teori ekonomi ternyata banyak kakunya dan yang ada pun sudah tergambar jelas di luar sana.

Bahwa tidak selamanya kopi dan air atau kopi dan susu adalah komplementer, seperti kita terima saja di kelas pengantar ekonomi mikro kemarin.[5] Tunggu dulu. Menurut Bung Nirwan, ada persaingan di antara air dan kopi. Ada substitusi.[6] Atau paling tidak naluri bersaing alih-alih bersekongkol atau dibuat bersekongkol dalam fungsi produksi. Betapa lugunya penyederhanaan oleh contoh-contoh dan kisah-kisah klasik buku teks. Karena sesungguhnya puisi memungkinkan dua barang bisa sekaligus komplementer dan subsitusi. Sekaligus bertarung, bersetubuh, membubung. Untuk kemudian jatuh menghujani bentang koran pagi.

Bahwa lebah ratu pun berhitung biaya versus manfaat. Sebelum memutuskan untuk membunuh atau memuaskan lebah pejantan. Atau kombinasi keduanya. Sekalipun ternyata korbannya adalah bayang-bayangnya sendiri. Sungguh, lebah pun tidak lepas dari konsekuensi yang serba tidak diniatkan.

Bahwa jangan-jangan memang mungkin ada lembar sepuluh dollar di jalan, tergeletak tidak menarik siapa-siapa yang melintas. Ratna Manggali adalah buktinya. Tapi kemudian, siapa berani dengan Calon Arang? Maukah Anda memungut lembar sepuluh dollar di jalan jika di sebelahnya mendesis ular berbisa? Syukurlah, untuk yang satu ini diktum ekonomi masih berlaku. Ketika Empu Baradah membinasakan sang ular, lembar sepuluh dollar pun lenyap.[7]

Bahwa mengajarkan efisiensi tidak melulu harus dengan kisah pakaian dan kue, dengan si A dan si B. Karena Bulan pun melakukannya, bersama Kesedihan. Bung Nirwan berkisah, Sang Bulan meminta kenikmatan yang lebih, ketika Sang Kesedihan sudah tidak bisa memberi lagi, kecuali melukai diri sendiri. Vilfredo Pareto dan Francis Edgeworth menyebut ini sebagai keseimbangan efisien.[8] Namun Bulan hanya tahu meminta dan Kesedihan hanya bisa menangis. Dan akhirnya efisiensi itu pun dirusak. Oleh pengorbanan Sang Kesedihan, mengupasi dirinya sedikit demi sedikit. Yang dikuncinya hanya cinta. Efisiensi memang bisa kejam.

Bahwa di Broadway, hanya di Broadway, ada titik optimum global. Di mana merah telah jenuh, walau tak pernah sampai ke surga. Kunang-kunang Manhattan bisa bersaksi. Bahwa ketika Marno dan Jane berpisah, masing-masing mereka akan terhempas ke titik yang tanggung, optimum yang lokal.[9] Para ekonom, holy grail yang kita cari itu ada di Broadway, hanya di Broadway.[10]

Bahwa laku teori permainan ada dalam setiap gerak.[11] Ketika menghauskan diri, agar dimasuki; ketika meringankan jantung agar dilayarkan; ketika mentanahkan agar dihujani. Dan tanggapan terbaik adalah mengejar, menghempas, dan menghunus. Nash equilibrium pada akhirnya adalah cinta yang berkelindan. Betapa sederhana, bahkan matematika pun tidak perlu.

Bahwa jauh sebelum ekonomi menjadi buku, Ular sudah mafhum rahasia Adam dan Hawa: insentif. Tidak ada yang lebih rentan daripada pasangan muda-mudi mabuk kepayang. Yang salah memilih discount rate.[12] Sehingga tuli dan akhirnya terkulai di tepi sungai. Dan Ular bersabda: maaf, tapi sampai kapan pun, akan kugoda anak Adam dengan desain mekanisme.[13]

Bahwa dunia tidaklah rata, seperti nyanyian cempreng Thomas Friedman.[14] Karena ada penjinak binatang, ada peniti tali. Ada Adam ada Hawa. Dan peziarah manapun tidak kuasa memaksa mereka bersepadan di jembatan mawar. Mengapa David Ricardo begitu cepat dilupakan? Kita berdagang, karena kita berbeda. Kita hidup karena kita berdagang. Maka janganlah bumi ini menjadi rata.[15] Tidak peduli betapa kencang Marx berteriak.

Bahwa ucapan terima kasih bisa cukup untuk membela diktum "tidak ada makan siang gratis".[16] Karenanya, berterimakasihlah kepada laut, tukang jagal, asparaga, juru museum, kentang bakar, padang rumput Chien, atau peluh lautan. Seperti lebah berterima kasih kepada nektar dan apel berterima kasih kepada serbuk sari sang lebah. 

Maka jika Bung Nirwan berterima kasih kepada susu masam yang mengembarkan payudaranya dengan aprikot jingga, saya berterima kasih kepada Bung Nirwan, atas terapi sengat lebahnya ini. Yang mengembarkan kosa kata saya dengan merah dan darah. Salam buat Lebah Ratu.

GoetheHaus, 17 April 2008



[1] S. N. Cheung, "The Fable of the Bees: An Economic Investigation", Journal of Law and Economics, 16(1): 11-33, 1973.

[2] J. E. Meade, "External Economies and Diseconomies in a Competitive Situation", Economic Journal, 52, 1952.

[3] A.C. Pigou,  Wealth and Welfare, 1912.

[4] Maksudnya, prediksi indikator-indikator ekonomi makro, seperti tingkat pertumbuhan, inflasi, dll.

[5] Dua barang yang bersifat saling melengkapi disebut komplementer. Implikasinya, kenaikan harga barang pertama menyebabkan penurunan permintaan atas barang kedua. Atau sebaliknya.

[6] Dua barang yang bersifat saling menggantikan disebut substitusi. Implikasinya, kenaikan harga barang pertama menyebabkan kenaikan permintaan atas barang kedua. Atau sebaliknya. 

[7] Berdasarkan P.A. Toer, The King, The Witch, and The Priest, Equinox 2002.

[8] Ketika interaksi dua agen ekonomi telah mencapai situasi di mana tidak satupun yang bisa menambah kepuasan kecuali dengan menurunkan kepuasan agen yang lain, situasi ini disebut Pareto-efficient (dari nama Vilfredo Pareto). Ekonom yang menggambarkan keadaan ini secara grafis dalam apa yang disebut sebagai kotak Edgeworth adalah Francis Edgeworth.

[9] Salah satu analisis penting dalam mikroekonomi adalah identifikasi titik optimum (baik minimum ataupun maksimum). Karena semesta himpunan-nya besar, seringkali ekonom harus puas dengan apa yang disebut local optimum – kondisi optimal di sekitar daerah yang membatasi pengamatan yang relatif kecil. Ada kumungkinan terdapat titik lain di luar daerah amatan. Jika tidak ada, maka titik optimal tadi disebut global optimum.

[10] Berdasarkan U. Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Grafiti 2003.

[11] Maksudnya, game theory, salah satu instrumen utama dalam menganalisis interaksi antara agen ekonomi.

[12] Discount rate atau tingkat bunga diskonto adalah besarnya tingkat kemauan seseorang mengkonsumsi sesuatu saat sekarang dibandingkan masa yang akan datang. Semakin tinggi discount rate semakin cepat agen ekonomi mengkonsumsi barang pilihannya.

[13] Maksudnya, mechanism design, sebuah pendekatan mikroekonomi untuk menciptakan sistem insentif-disinsintif guna meminimumkan kemungkinan kecurangan salah seorang peserta interaksi.

[14] T.L. Friedman, The World is Flat, Penguin 2005.

[15] David Ricardo adalah ekonom yang mempopulerkan comparative advantage. Bahwa antara dua orang pasti ada yang unggul dalam A dan yang lain dalam B, dalam hal rendahnya biaya untuk memproduksi X.

[16] "There is no such thing as a free lunch". Contoh lembaran sepuluh dollar tergeletak di jalan adalah salah satu varian dari diktum ini.

Minggu, 11 Mei 2008

menyusur nabi-nabi (2005)

menapaktilasi van gogh
sampai dali hingga pening
paris ternyata pesing

menyaluti sartre
tombak eksistensialis
yang eksistensinya habis

amsterdam, paris, 2005

Sabtu, 10 Mei 2008

London Bridge is Falling Down (2007)

di london di atas jembatan ini
memandang big ben yang angker
kita bersenandung
tentang jembatan london yang akan roboh
karena balok-balok besi
akan toh bengkok dan patah

dingin musim panas
dari brighton
takkan banyak menolong

london dan brighton 2007

Tuan-tuan, dikotomi itu tidak relevan (2006-07)

tradisional versus moderen
perang troya yang tak habis itu
ternyata sirna oleh
pendapatan per kapita

kyoto 2006, roppongi 2007

presisi jerman (2005)

sosis sebesar ini
tetap saja tidak mampu menghilangkan gambar olimpiade yang berdarah itu

pada makan malam yang terpanjang
dengan biola dua perawan arya

kita bertanya


munich, 2007

koefisien gini (2005)

kusebut itu "safari ketimpangan nasib"
alias "a tour of income disparity"
bagaimana tidak
kau terbang ke dakar
lalu pulang lewat abu dhabi
teh mint di casablanca pun diam
tentang ironi atau alami
yang satu
karena modal

dakar, casablanca, abu dhabi, 2005

pusat regulasi vs pusat bisnis (2002-06)

antara kemapanan dan gejolak
antara diam yang kaku dan ribut yang gagu
antara birokrasi dan transaksi
antara konsensus dan kaukus

haruskah berdua?

springfield dan chicago, 2002
washington dc dan new york city, 2004
canberra dan sidney, 2006

perasaan pak tua dalam hemingway? (2003)

bahkan ketika jembatan itu merekah
ketika kapal uap membelahnya
hawa atlantik tetap segar menerpa
mengapa takut
dengan tanjung ini?

cape fear, 2003

Globalisasi: love-hate (2003)

di tengah malam tempat bertemunya crepes dan xxx, inggris dan perancis, generasi grunge dan mahasiswa dan jazz, kita bicara. ditingkahi saksofon dan tabla. tentang demonstrasi anti globalisasi. dengan jins dan coca cola dan marlboro.

montreal, 2003

Jumat, 09 Mei 2008

El Che (2000)

Seorang anak kecil, sesak karena asma, tenggelam dalam sebuah buku tebal. Das Kapital, Marx-Engels. Di sebelahnya, baru selesai dia baca, psikoanalisis Freud. Yang terakhir ini lebih menarik baginya. Dia tidak suka politik, sekalipun sang ibu adalah aktivis anti Peron. Asma ini terlalu mengganggu baginya, sehingga dia memutuskan untuk mempelajari penyakitnya. Dan, memang dia, beberapa tahun kemudian, tekun belajar sebagai mahasiswa kedokteran di universitas Buenos Aires. Dia menjadi dermatologis. Tapi bukan dermatologis thok. Kehidupan mahasiswa hanya dengan buku dan kelas adalah kegagalan. Dia tidak mau itu terjadi padanya.

Maka di sela-sela kuliah dan antar ujian, dia berkelana keliling negeri. Menyentuh tanah, melihat kesedihan. Serta juga membaca buku paling penting bernama Kehidupan. Dijamahnya Argentina, Chile, Kolombia, Peru, dan Bolivia. Dikenalnya Salvador Allende, karib sekaligus guru dan majikannya.

Pemuda itu idealis. Sosialis Guatemala menawarkan posisi penting kepadanya. Dia menolak, karena dia tahu praktek presiden Arbenzs menyimpang dari buku Marx dan Lenin-nya. Dia menolak bergabung dengan Partai Komunis. Dia lebih suka kawin dengan Hilda, seorang Indian yang membawanya berkenalan dengan Fidel Castro di Kuba. Castro terkesan, sebuah masa depan yang cemerlang sekali. Tapi itulah Che, ditinggalkannya Castro, hanya karena Castro terlalu naif dengan konsep komunismenya. Komunisme bukan seperti itu, kata Che. Selamat tinggal.

Terlalu banyak orang yang membaca Marx. Dan terlalu banyak yang salah kaprah. Che sedih, dia ingat bahwa Marx pernah berkesah: "Saya bukan Marxis". Marx bukan Marxis. Dengan segala kekecewaan, Che memutuskan mengabdikan diri kepada flamboyanisme. Che tinggal kenangan. Atau romantika bagi sebagian pengagumnya. Kini, orang masih ribut tentang komunisme. Juga di sebuah negara ekstra sosialis, Indonesia. Che-che sebenarnya banyak di kampus-kampus Jakarta. Hanya, fasisnya pemerintah dua kali lipat beratnya daripada
Peron musuh Che Asli. Dan kebenaran sungguh jauh di bawah tapak sepatu. Bagaimana mungkin mau belajar dan menyentuh kehidupan yang sesungguhnya?

Indonesia bukan salah satu negara latin itu. Indonesia lebih kompleks, dan lebih susah. Jika Che harus besar dan tumbuh di Indonesia. Misalnya jadi dokter lulusan UI tapi ekskul di PRD, dan kontroversial anti-PKI, mungkin ceritanya lebih berbunga. Mungkin romantikanya lebih biru. Tapi, jika Che besar dan tumbuh di Indonesia, kecewanya mungkin lebih dalam, sehingga asmanya merenggutnya lebih cepat. Karena tokoh-tokoh yang bagus, pada akhirnya berkelahi sendiri. Pram dan GM adalah Havel dan Kundera. Saat ini kata "dan" telah berubah menjadi "versus". Bedanya, hanya satu dari keempat nama itu yang jadi Presiden. Niscaya, Che pasti bingung. Asma itu terlalu mengganggu baginya. Sekalipun Sartre bereulogi untuknya: Bahwa Che adalah manusia paling lengkap.

Sartre salah.

Champaign, 2000

incognito (2001)

espresso cafe, pagi menjelang kelas. aku masih galau akan ujian kemarin. selalu begitu. ketika kau ujian, dan sadar bahwa apa yang kamu kerjakan salah namun sudah terlambat, maka beginilah jadinya. seakan waktu mau kau lipat-lipat seperti jam loyonya salvador dali. agar bisa kembali ke ruang kelas, menghapus yang salah lalu menorehkan yang benar. seperti hidup yang
diimpikan dan tak pernah menjelang.

cinnamon rolls dan cafe espresso. selalu menjadi solusi akan gundah senin pagi. namun tidak cukup tanpa gary moore. ritual, sebelum bisa semangat kembali dengan segala tugas dan pekerjaan rumah. yang kadang menjadi begitu membosankan. sekali dua kau bisa kelabui dan, sebaliknya, malah bercinta dengan buku-buku tua di lantai delapan yang pengap. melahap sejarah, menelan budaya. tak kau muntahkan kembali seperti kalkulus atau mekanika kuantum. bertumbuh kau dengan naskah tua raja ali haji sampai dokumen asli marcopolo. atau tersuruk di sudut departemen filem menongkrongi bergman, hitchcock, atau satyajit ray. lalu tertawa akan kegenitan simon west yang telah membunuh masa depan angelina jolie. selalu begitu. jika tidak, kau biarkan jejarimu berdarah oleh senar gitar. tangan yang kecil.

aku teringat mcveigh. mati muda dengan tiga suntikan. apa yang ada di pikiran kawan itu. i am the master of my fate, the captain of my soul. damailah dalam matimu, sahabat. aku simpan suratmu. bahwa kau bom mereka sebagai tanda protesmu akan kemunafikan. akan standar ganda. selalu begitu. juga ketika kulitmu berubah kuning sekalipun matamu menatap tajam menusuk. betapa mayanya usia.

mengapa, malam minggu bukan setiap hari. begitu protes seorang kawan. hedonis. yeah, fine, like you don't get drunk on thursday and friday, you bitch, kata kawan lain. dua gegadis tanpa suratkabar dalam hidup mereka. betapa aneh ketika seorang dosen muda mendekat, mereka bertanya. are you a democrat or a rep? dalam cangkir kedua, aku melayang ke sawah. masa kecil yang masih di jendela. dengan nenek yang masih hidup, mengajar memegang batang padi yang betul. mematahnya dan menjadikannya suling. menjadikan sebuah sore di kampung sebagai potret dalam filem. dengan pemandian air hangat. sumur tua bikinan belanda. aku ingin
kembali. ibu.

sindroma senin pagi pasca ujian minggu sebelumnya. begitu mungkin, kalau pakar psikologi menulis ini di kolomnya. sama saja, ditulis atau tidak. ketika hamzah merajalela di arena badr, atau bima di kurusetra, atau sulingmas di detikdotkom. sama saja. ada darah, ada gundah. dan ketika kopimu habis, kamu kembali melangkah. menuju kelas. untuk seminggu lagi, sebelum ritual yang sama. angin menyentuh di belakang telingamu, pelan.

green street, 2001

Insomnia (2002)

Waktu adalah ketakpastian, tulis J. Nolan dalam cerpennya di majalah Esquire, "Memento Nori". Cerpen yang unik, tentang seorang Earl yang berdialog dengan dirinya, atau tepatnya dengan memorinya. Christopher Nolan, terinspirasi oleh cerpen saudaranya, menulis adaptasi akan cerpen itu dan memfilemkannya menjadi "Memento" (2001), dengan plot yang sungguh sophisticated. Tentang seorang Lenny yang kehilangan kemampuan menyimpan memori jangka panjang baru (a.l. bagaimana dan siapa yang membunuh istrinya), sekalipun tetap mampu mengingat memori jangka panjang yang lama (istrinya dibunuh).

Tapi catatan ini bukan tentang Memento, melainkan filem Chris Nolan yang baru, "Insomnia" (2002), sebuah adaptasi atas filem Norwegia dengan judul yang sama dari sutradara Erik Skjoldbjaerg (1997). Ketika saya menonton Insomnia-nya Nolan, ternyata bukan hanya Insomnia-nya Skjoldbjaerg yang selalu memaksakan komparasi kognitif di dalam kepala saya. Tetapi juga Memento. Yang pertama lebih kepada pengamatan akan apa ditawarkan oleh "remake" Nolan: apakah klise dan mengecewakan sebagaimana sebagian besar remake Hollywood (mis., Psycho). Atau lebih bagus. Yang kedua lebih kepada kerinduan akan sofistikasi dan kejutan-kejutan Nolan sebagaimana halnya dalam Memento. Dan tampaknya Insomnia-nya Nolan berada di tengah-tengah. Ia, setidaknya bagi saya, sama dengan atau sedikit lebih kuat daripada Insomnia-Skjoldbjaerg, namun sedikit di bawah Memento. Apakah ini sebab Nolan harus berkompromi dengan dunia Hollywood (produser eksekutifnya adalah George Clooney dan Steven Sorderbergh - tidak heran, ia memakai "terlalu banyak" bintang, ingat "Ocean's Eleven"), entahlah.

Kalau di "Memento" Chris mengembangkan skrip berdasarkan cerita Jonah, maka di "Insomnia", ia mengundang penulis skrip versi asli, Nicolaj Frobenius dan Skjoldbjaerg untuk memberi masukan kepada Hillary Seitz yang lalu menjadi penulis utama skrip untuk Insomnia baru ini. Dan Seitz, sekalipun ini adalah skrip filem pertamanya, melaksanakan tugasnya dengan
baik (atau "lebih mudah"?). Ia menjadikan plot Insomnia menjadi lebih berwarna (atau "lebih populer"?). Tambahan, Seitz menaikkan level "kerumitan" Insomnia-Skjoldbjaerg dalam Insomnia-Nolan. Hal yang bisa berakibat baik dan jelek sekaligus. Insonmia-Skjoldbjaerg adalah sebuah gambaran kerumitan psikologis seorang polisi insomniak (Stellan Skorsgard; Breaking the Waves). Insomnia-Nolan adalah filem triller dengan tokoh utama seorang polisi insomniak (Al Pacino; Scent of a Woman). Baik Skorsgard maupun Pacino bermain dengan memukau.

Bedanya, Skorsgard lebih berwarna ketimbang Pacino. Skorsgard adalah polisi brilian, arogan, dan seksual. Pacino adalah polisi brilian -itu saja. Tapi Pacino lebih berhasil mewakili seorang penderita insomnia: dalam determinasinya yang tinggi, tatap matanya tampak jelas merindukan tidur, bukan hanya gesturnya. Keduanya berhasil membawakan tema utama kedua Insomnia
ini: "Even the best makes mistake".

Cerita berkisar kepada pembunuhan seorang gadis remaja (17 tahun di Nolan, 15 tahun di Skjoldbjaerg) oleh seorang psikopat penulis buku (Robin Williams di Nolan; Bjorn Floberg di Skjoldbjaerg). Dalam upaya menangkap pembunuh ini, polisi senior Dormer (Pacino) melakukan kesalahan: menembak partner-nya sendiri. Celakanya, sang pembunuh menyaksikan kejadian tersebut. Ia lalu memanfaatkan keadaan ini untuk memeras si polisi. Tinggalkan kasus pembunuhan ini, atau ia membocorkan peristiwa itu, dan dengan demikian menghancurkan reputasi Dormer ynag telah melegenda.

Sebuah plot yang sederhana (sungguh jauh dari Memento). Hanya saja, pergulatan psikologis dalam kepala si polisi menjadi sangat menarik. Filemnya Nolan lebih berhasil membawa kepada konundrum apakah Dormer sebaiknya mengaku saja, atau tidak -- toh itu adalah sebuah kecelakaan tragis nan konyol. (Dalam Skjoldbjaerg kita mungkin langsung menggugat: mengapa
ia tidak mengaku saja?). Kelebihan Nolan ini mungkin ditunjang oleh improvisasi Seitz yang menjadikan seorang polisi junior Ellie Burr (Hilary Swank) sebagai pemuja Dormer. Karakter Burr membantu penokohan Dormer menjadi lebih jelas (hitam putih tidak berarti kabur!). Hanya saja, Swank (Boys Don't Cry) sendiri tidak berkembang. (Justru, Maura Tierney-nya serial tivi E.R., yang memerankan klerek hotel tempat Dormer menginap, bermain lebih bagus
daripada Swank, sekalipun dengan airtime terbatas sekali). Dalam filemnya Skjoldbjaerg, polisi
rookie-nya bukan pemuja fanatik sang polisi senior, sehingga tidak memberi ruang yang cukup untuk memanfaatkan karakter ini dalam menerangkan pribadi Engstrom (nama polisi di Skjoldbjaerg).

Kelebihan lain dari filem Nolan adalah fotografi. Dikerjakan oleh Wally Pfister (Memento), ia memberikan gambar-gambar yang selalu mengingatkan bahwa filem ini berjudul Insomnia. Gambar Al Pacino menempelkan lakban ke tirai jendela untuk menghalangi sinar matahari
tengah malam (ingat, ini Alaska) menjadi lebih berbicara, ketimbang adegan yang sama oleh Skarsgard di filem aslinya. Nolan juga masih memakai Dody Dorn dari Memento untuk mengedit filem ini. Yang juga menarik, pemilihan opening title sunnguh cerdas: huruf-huruf yang setengah kabur dan tumpang tindih, seolah dilihat oleh mata seorang insomniak).

Tetapi. Bagi penggemar film-noir, jangan terkejut: Insomnia-nya Skjoldbjaerg lebih gelap ketimbang punya Nolan. Dengan kata lain, percaya atau tidak, Insomnia-Skjoldbjaerg lebih "Memento" ketimbang Insomnia-Nolan. Sekalipun skrip Seitz sangatlah apik, bau Hollywood menjadikannya lebih "gemerlap daripada yang seharusnya". Dalam hal ini, "Mulholland Dr" lebih
unggul.

Terakhir, bagi fan(atik) Memento, jangan mencak-mencak, mengapa Al Pacino tidak sebermasalah Guy Pearce, secara psikologis (dan/atau kognitif). Toh, ada ironi yang cantik di sini. Tokoh amnesiak dalam Memento menderita masalah mengembalikan memori. Sedangkan tokoh insomniak dalam Insomnia sungguh ingin terlepas dari memorinya, memori akan kesalahannya melaksanakan tugas. Bahkan, seorang kawan saya bergumam: "Yang dibutuhkan Dormer adalah amnesia, bukan insomnia. Seandainya ia adalah Leonard Shelby..."

Urbana, 2002

The Color of Paradise (Majid Majidi) (2000)

Muhammad nama anak laki-laki buta itu. Dari keluarga miskin yang ditinggal mati ibunya. Bapanya seorang pekerja kasar di desa yang selalu gelisah dengan kesendirian serta selalu terganggu oleh ketidakpercayaan dirinya sebagai tiang keluarga: Muhammad, Bahareh, Hanieh, dan sang nenek tua. Muhammad dititipkan di sekolah sosial untuk anak buta di kota. Kedua saudara perempuannya cukuplah bersekolah di desa, sekolah untuk anak normal. Sang nenek bertani dan beternak ayam. Potret keluarga manusiawi di sebuah desa miskin namun berbunga indah dan berkupu-kupu, warna-warni, warna surga.

Persoalan dimulai ketika sekolah Muhammad memasuki masa libur panjang. Semua murid harus pulang ke rumah masing-masing, karena guru pun perlu libur dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Satu per satu teman sekolah Muhammad dijemput oleh keluarga mereka. Hingga tinggallah Muhammad. Tanpa penjemput, tanpa keluarga. Ia menangis. Dalam tangis itu, Muhammad mendengar tangisan lain. Dari seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya, dan celakanya belum bisa terbang. Muhammad menghentikan tangisnya. Dia tahu, bahwa ada tangis lain yang lebih berhak atas perhatian Tuhan. Dengan segala daya dan kebutaannya, hanya mengandalkan pendengaran dan hatinya, Muhammad mengembalikan anak burung itu ke sarangnya, di atas pohon.

Seorang lelaki tua dengan mata tipis harapan menghampiri. Ia bapa Muhammad. Waktunya sekarang untuk menjemput sang anak. Namun, datanglah keraguan dalam dada si bapa. Bagaimana saya harus memelihara anak buta ini? Apakah saya mampu? Apakah dia nantinya bisa mandiri? Setelah permintaannya kepada guru --agar Muhammad dititipkan saja di sekolah itu selamanya-- ditolak, si bapa terpaksa membawa pulang Muhammad ke desa. Menuju kehidupan yang bertambah keras, oleh tambahan satu beban. Beban yang buta pula.

Dan Muhammad. Apa yang diketahui seorang anak kecil buta tak berdosa itu? Dia berlari-lari kecil di sepanjang pematang sawah --terkadang jatuh-- tak sabar menemui kakaknya tersayang Bahareh, adiknya tercinta Hanieh, dan terutama neneknya yang terkasih, Azizah. Ia telah menyiapkan bingkisannya sejak lama. Kalung tutup botol buat adik, sisir plastik buat kakak, dan
gunting kuku warna merah, hadiah juara di kelas, untuk nenek. Kebahagiaan dan kehangatan di pojok desa kecil akan datangnya aku, laki-laki keluarga. Dia bahagia. Dia lupa akan butanya. Ketika diremasnya tangan neneknya, dia berkata: "Nek, bagaimana kamu bisa punya tangan seputih ini?". Berderai air mata, Azizah menjawab, "Muhammad, ketahuilah, tangan Azizah hitam oleh umur, jelek oleh cuaca". Muhammad tidak menerima, "Tidak mungkin. Tanganmu halus sekali" [kamera berfokus kepada tangan Muhammad --kecil dan halus, mengusap tangan azizah --tua, keriput, kurus].

Burung-burung bernyanyi, mengiringi cinta di antara dua manusia itu. Tetapi, warna-warna tidak abadi. Bapa semakin gelisah akan penghasilannya yang sangat minim dan kewajibannya
menghidupi keluarga. Dan, oh, hatinya tertambat kepada seorang janda di desa sebelah. Menikahi sang kasih tidaklah semudah mengangkat karung arang atau membelah pohon sebagaimana pekerjaannya sehari-hari. Tabungannya tidak ada, penghasilannya selalu kurang.
Tapi, oh. Haruskah aku hidup begini selamanya? Maka si laki-laki tua berkeputusan: melamar. Dengan segala ketakadaan, mahar dia sediakan. Dan, demi sedikit mengurangi tanggungan, Muhammad harus di"titipkan" kembali.

Nenek dan kedua saudara Muhammad protes keras. Mereka tidak rela Muhammad dijauhkan
lagi dari keriaan keluarga miskin itu. Muhammad pun begitu. Dia merasakan kebahagiaan bersama nenek yang mengasihinya. Dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah normal di desa bersama saudaranya. Dia bisa "melihat" warna-warna surga di desa itu. Tapi tidak demikian
dengan bapanya. Dalam kelengahan nenek, bapa memaksa membawa Muhammad ke desa lain. Ia dititipkan ke tukang kayu tunanetra. Disuruh bekerja agar kelak bisa mandiri. Maka, dari
mata buta yang kecil itu, kembali mengalir air...

Dengan hilangnya Muhammad, warna menjadi gelap. Nenek sakit dan akhirnya mati. Bahareh dan Hanieh sedih dan menangis merindukan saudaranya. Bapa dilanda sesal, apalagi setelah lamarannya dibatalkan. Lelaki tua itu tak berdaya. Menangis meraung. Ia rindu pada Muhammad. Dan, bapa kembali menjemput Muhammad. Tanpa uang buat bayar bis, ia memutuskan naik kuda. Dalam perjalanan pulang dengan Muhammad di atas kuda itu, jembatan kayu ambruk. Muhammad dan kuda hanyut di tengah arus deras sungai dan hujan yang marah. Si bapa tertegun melihat anaknya ditelan alam. Ia melompat.

Tapi apalah daya seorang tua peragu. Ia pun hanyut... Ketika bangun, ia mendapati diri di sebuah pantai sepi dengan burung-burung di atas memandang. Dan di sana. Di sana ada tubuh Muhammad. Mati. Dia, si bapa, berlari menjemput anaknya. Dipeluknya dalam tangis tak berkesudahan... [fokus kamera pindah ke tangah Muhammad, bercahaya, bergerak kemudian tamat....]

Chicago, 2000

Romo Mangun (1999)

Sewaktu mendengar kabar kematian Romo itu, saya malah langsung ingat dengan diskusi kecil tapi santai kita di milis ini. Tentang intelektual, dikompori Bang Dede dengan iklan PhD-nya itu. Well, bagi saya Romo adalah intelektual, satu dari tidak banyak. Beberapa yg lain punya Indonesia tentu saja Koko, Natsir dan Hamka. Saya mengenal, atau tepatnya tahu Romo Mangun ketika membaca tulisannya tentang Panglima Sudirman di Kompas entah kapan tahun 1980-an awal. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan gaya bahasanya, yang membuat gaya Gunawan Mohamad dan Chairil Anwar terpaksa berbagi lagi di hati saya. Dan saya lupa, apakah itu proyek Kali Code atau karya arsitekturalnya yg mana yg menerima Aga Khan Award, yang jelas saya berpikir: nih orang bisa segala hal. Sastra, arsitektur, sejarah, dan paling penting tentu saja: manusia. Maka tersimpulkanlah tidak bisa tidak: ini dia cendekiawan, intelektual. Mulai saat itu, saya berburu karya-karya Romo. Tulisannya di Kompas, Bernas, Horison, Kalam, dan kalau tidak salah bahkan di Ulumul Quran menjadi inspirasi bagi saya. Kritik sastranya (salah satu dapat penghargaan: Sastra dan Religiositas, kalau tidak salah ingat) juga tajam seperti kalau Arief Budiman dan Ariel Heryanto ngomong tentang sastra, walaupun tidak kepaus-pausan kayak HB Jassin. Novelnya saya koleksi beberapa, dan saya pinjam beberapa. Burung-burung Manyar yang menjadi The Weavebirds dan dapat SEA-Write Award dipuji-puji di seluruh dunia, walaupun saya kok lebih nyaman dengan "lanjutannya", Burung-burung Rantau, di mana Romo memperkenalkan citra manusia Indonesia Baru (salah satu tokoh yg kuat sekali karakternya adalah Marineti, wanita Indonesia moderen, namun dikontraskan oleh Romo dengan pengemis-pengemis harijan di India, dan kehidupan seorang insinyur yg kerja untuk NASA). Ada lagi "novel pelajaran antropologi": Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, yg sungguh menawan. Romo, saya pakai nyanyian-nyanyian suku Tobelo dalam novel Anda itu untuk puisi saya sebagai simpati kepada kasus tanah Hanoch Hebee Ohee tempo hari. (Saya tidak bisa baca puisi, namun saya sendiri semakin sedih dengan perampasan tanah di mana-mana oleh pemerintah, ketika mendengarkan Yono membaca puisi itu di Malam Seni FEUI beberapa tahun lalu). Dan tak bisa dilupa adalah novel sejarah Roro Mendut. Ini bagi saya hanya bisa sejajar dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang kebetulan dikarang oleh sahabat kental Romo, Ahmad Tohari, seorang kiai kampung yg astaga hebat karya-karyanya. Saya juga bosan menyebut tentang Pramudya, tapi betapa tidak fair-nya kalau dulu-dulu bicara Pram tanpa menyebut Romo.

Maka kepergian Romo adalah sebuah kehilangan besar. Tapi, Romo, Anda ada di sini. Ijinkan saya pakai terus gaya Romo, terutama frase: ..(kata sifat).. serba .. (kata sifat) lagi. Atau kata-kata yg beritme dengan asal bahasa Arab: si X yg budiman, wassalam, rahmatullah, dll.
Satu lagi, saya kalau menulis kata "asyik", selalu saya buang y-nya, menjadi "asik". Itu juga nyontek dari Romo. Selamat jalan.

Urbana, 1999

Sapi dkk (2001)

"But I like the animals better than the `best
people'," said the Doctor. [The Story of Dr. Dolittle
- Hugh Lofting]

Seorang kawan saya, pecinta binatang protes. Pasalnya,
dia keberatan dengan adanya diskriminasi dalam
perbinatangan. Mengapa, katanya, kuda dan kambing,
ketika sama-sama hitam, nasibnya jauh berbeda? "Kuda
hitam" adalah si bukan-jagoan-tapi-lalu-menang. Tapi
"kambing hitam", ah tahu sama tahulah. (Kawan yang
lain mempermasalahkan manipulasi terjemahan: mengapa
si "kuda hitam" berubah menjadi anjing dalam bahasa
Inggris, "underdog"? Padahal "kambing hitam" masih
tetap kambing dalam "scapegoat", dan "bangkotan" masih
tetap "goat"?).

Si teman pertama menggugat lagi. Mengapa binatang yang
hidup di darat selalu dianggap jelek? "Buaya darat",
"lintah darat", dia beri contoh. Si teman kedua yang
lebih peduli dengan transbahasa malah menimpali:
mengapa cewek disebut "chicken, chix", sementara napi
disebut "fish" tidak peduli napi cowok atau napi
cewek? Si Pertama: Mengapa kamus ekonomi selalu
mengeksploitasi binatang: "bisnis gurita" (padahal
bukan jualan gurita), "pebisnis kakap" (padahal yang
diekspor kayu lapis), "petani gurem" (padahal yang
ditanam jagung)? Si Kedua: Mengapa Hannibal Lecter
disebut "snake" sementara Lolita dipanggil
"butterfly"? Mengapa "Princess Swan" dibilang manis,
tapi "Prince Frog" divonis jelek?

Well, kata teman ketiga yang baru bergabung. Begitulah
nasib binatang. Selalu diatasnamakan dan
disalahgunakan oleh "rajabinatang" alias manusia.
Bahkan, seringkali Pak Anu bilang: "Gila, kelakuan
kamu seperti binatang!". Hei, apakah manusia selalu
lebih mulia daripada binatang? Big NO. Iya, binatang
memang tidak sekolah. Tapi mereka tahu jalan pulang
dan tidak suka mabuk. Kemaluan binatang memang
kelihatan, tapi mereka tidak memalukan. Binatang
memang telanjang. Tapi mereka tidak korup, tidak
hombreng, tidak lesbong [ups, walaupun ada yang
hermafrodit], dan tidak pro-choice segala macam.
Blablabla, si Ketiga terus mengoceh...

Saya teringat masa kecil. Di Makassar, seorang anak
kecil yang kepalanya besar tapi tinggal kelas terus
sering diledek sebagai "olo'olo'je'ne" (olo'olo' :
anak ulat, je'ne' : air, olo'olo'je'ne':
berudu/kecebong/bakalkodok). Waktu itu saya belum peka
untuk bertanya: Mengapa musti kodok? Tapi sekarang
saya tidak hendak bertanya lagi. Toh, tanpa "binatang"
betapa kering bahasa ini. Sekarang sebuah lagi frase
baru memasuki Kamus Besar Bahasa Indonesia: "dagang
sapi". Tidak tahu siapa oknum manusia yang memulai.
Tiba-tiba kawan sapi pun mengalami nasib yang sama
dengan sahabat kita kambing. Peyorasi (penurunan
makna, kata Bu Guru). Ah, ba(-hasa-)basi, kata si
Otong di bangku belakang.
Hidup binatang. Manusia? Hm.

Champaign, 2001

Jangan Beri Aku Pilihan: Sophie's Choice (2001)

hidup adalah memilih. begitu, ilmu ekonomi
diterjemahkan ke dalam keseharian. sehingga
indifferens adalah sebuah kebancian, abu-abu yang
buruk. sekalipun ada sebuah tameng eskapisme. bahwa
memilih untuk tidak memilih adalah juga sebuah
pilihan. sebuah lagi jalan suisidal dari dunia
filsafati yang temaram. sayang, ketika pilihan harus
diucapkan di bawah laras dan senapan, ia sama sekali
bukan pilihan…..

namanya sophie zawistowska. potret sebuah kesakitan
yang cantik. kulit putih pualam, leher jenjang, dan
mata arya. membungkus kenangan hitam kelam dari
lembaran yang telah terkencingi anjing-anjing sejarah.
anjing bernama hitler, atau sekarang milosevic, atau
dulu nero, tidaklah penting. mereka telah merebut eva,
gadis kecil dari dekapan sophie di auschwitz. dalam
kamp berbau darah. mereka telah memaksa sophie
menyerahkan salah satu: eva atau jan ke para pembunuh
nazi. dengan kekuasaan, pilihan pun bisa dimanipulasi.
bahkan dengan pelintiran bibel: suffer the little
children to come unto me. sorot mata dokter separuh
setan itu berkata: tak berguna, kau katolik atau
yahudi. namun, karena kau polandia bukan yiddish,
keperkenankan kau memilih. memilih?

ke new york sophie mencari hidup. hampir seratus tahun
lalu, seorang wanita polandia lain melakukan hal yang
sama. helena modrzejewska. hal yang sama. tujuan,
nasib, dan akhir yang berbeda. mereka bilang: if you
can make it in new york, you can make it everywhere.
omong kosong. helena menjadi bintang besar, sophie
adalah kegagalan besar. kegagalan seorang wanita
mempertahankan anaknya. tunduk kepada keharusan
memilih. antara jan atau jan-plus-eva atau eva. dan
ketika lidah kelu mengucap, ia serta merta membunuh
eva. mengapakah pilihan bisa demikian keji. mengapa ia
tak bisa memilih menjadi jerman. sang pilihan telah
memilih dia: menjadi anak dari arsitek eksterminasi
yahudi. menjadi gadis peragu yang ingin menolong
resistanz namun akhirnya menjadi tawanan nazi.
membenci ayah, membunuh anak, mencinta sikopat.
kegagalan apa lagi yang bisa lebih dari itu, sophie?

sophie. aku mengerti sekarang, bahwa ada titik ketika
pilihan adalah sebuah kematian. Air matamu menjelang
habis di autschwitz mencari eva dan jan. sisanya kau
bagi untuk kebahagian semu bersama nathan, kekasihmu.
sebelum sodium sianida mengantar kalian berdua ke
sini. ke alam lain. bukan kertas di tangan styron,
bukan pita seluloid di tangan pakula. bukan sebuah
kisah dengan raga meryl streep. kau menjelma. ada
ratusan, ribuan, jutaan sophie di luar sana. yang
tidak punya pilihan, selain memilih kegagalan.
apakah kematianmu sia-sia? karena juga di luar sana,
ada jutaan dokter von niemand. yang berkeliling
membawa keranjang berisi pilihan. dibagikan dengan bau
maut menyerta. manusia-manusia yang merasa suci. dan
lalu membunuh para terdakwa. dengan satu kata: pilih.
sungguh sakit. apakah dengan berbeda, berarti dosa?
apakah darah yang mengalir dalam pembuluhmu, udara
yang meniup dalam dadamu, menentukan: kamu seharusnya
tidak pernah ada di dunia ini?

chicago, june 2001.

Waktu (2000)

temanku, hari ini waktu mundur. sedikit aneh
rasanya. seolah-olah ditarik oleh sebuah tangan besar,
untuk perlahan-lahan maju kembali. padahal, matahari masih
tetap yang dulu itu. ilusi. iya, ilusi yang membuat
semuanya seolah lain. dan ilusi adalah sebuah candu.
ketika kau berilusi, betapa ingin rasanya untuk
terus dalam ilusi. begitu yang terjadi beberapa jenak
padaku pagi ini. aku ingin agar ilusi itu terus abadi.
bahwa waktu senantiasa membawa mundur ketika langkah
semakin tak terkendali.
aku berjalan di tengah lapangan kampus. angin
rupanya tidak mengerti akan makna ilusi. ia tetap saja
berpacu di antara sesamanya. lewat di sisi belakang
telingaku.
meniup rambutku yang gerai. angin itu membawa
cerita. tentang seorang pencuri yang dihukum seumur hidup.
"ia mencuri hati seorang perempuan muda. dibawanya
menelusuri sungai bertutup salju sampai hutan
belantara. dari sudut kota nagoya hingga jembatan
san francisco. dari hari-hari dunia yang sibuk. hingga
malam-malam dingin serta hujan. kemarin pencuri itu
tertangkap. pengadilan memutuskan ia bersalah. kini
hati dikembalikan kepada perempuan muda. dan pencuri
itu mendekam di sel dingin. menatap lantai. tak bisa
menangis, karena hatinya telah dirampas. oleh
pengadilan". aku terus berjalan. beberapa daun jatuh
ke pundakku.
aku memikirkan cerita yang dibawa oleh angin itu.
mengapa keadilan bisa demikian tiran. ataukah si
pencuri hanya seorang pecundang. yang celaka tidak
baca chairil anwar. "bahkan dengan cermin aku enggan
berbagi". aku tidak mengerti mengapa si pencuri,
yang bisa mencuri, tidak bisa berkelahi. untuk
mempertahankan hati itu.
"bacalah bibirku. sebab aku tak bicara".
begitu, aku ingat nadine gordimer. aku
terus berjalan.
ah, lupakan saja cerita omong kosong itu. aku sedang
menikmati berhentinya waktu. sekalipun hanya ilusi.

urbana, 2000, ketika manusia tunduk kepada waktu.

Pramudya dan Maya Lin (1998)

Dalam kering dan susahnya salut kepada gerakan mahasiswa, kiriman email dari rekan Chatib Basri sungguh mengingatkan kembali akan gagah beraninya mahasiswa tahun lalu. Email itu tentang dan dilampiri puisi, tulisan seorang mahasiswa Trisakti, Pramudya Wardhana saat terjadi tragedi Trisakti setahun lewat. Kita baca sedikit:

kami berdiri di depan wajah-wajah keras aparat
tegang berpeluh bersama-sama
bunga mawar kami selipkan di baju anti pelurumu
cinta dan kasih kami selipkan dihatimu
semua terjatuh di aspal panas
sore itu langit disaput mendung
matahari temaram
dan Tuhan pun bermuram durja
satu tembakan dan semua terjadilah
mereka berlari menghampiri kami dengan ayunan pentungan
tembakan peluru karet dan gas air mata
kami tercerai berlari memasuki kampus
korban pertama pun jatuh

Sebuah reportase yang sangat masuk akal, oleh saksi mata yang tidak mengada-ada. Tidak ada puisi yang lebih bagus daripada kejujuran. Dan kejujuran Pram Wardhana sungguh membuat hati meringis. Mungkin bukan buat komoditi kolom puisi di majalah populer, tapi jelas adalah memorial yang lebih pas daripada tugu pahlawan manapun.

Memorial. Saya terkenang Dr. Maya Lin, seorang arsitek, artis, desainer, sekaligus pematung ajaib lulusan Yale University. Tahun 1980, dalam usianya yang 21 tahun, Maya Lin, mahasiswi undergraduate Arsitektur di Yale menjadi pemenang kontes desain memorial perang Vietnam yang diadakan persatuan para veteran perang Vietnam, atau apalah namanya. Karyanya terpilih dari lebih 14 ribuan kontestan. Mengalahkan ratusan artis terkenal, ratusan perancang memorial yang sudah punya nama di berbagai negara. Mengapakah?

Kejujuran. Karya Maya Lin bukan berupa patung tiga serdadu berjalan pincang dengan salah satunya pegang bendera. Bukan berupa helem pecah berdarah di sebelah sepatu laras sobek dengan jari manusia masih tersisa. Yang dibuat Maya Lin adalah pualam hitam berbentuk bumerang patah, muncul dari tanah. Seperti patahan bumi karena kemarahan Tuhan. Di situ tertuliskan nama puluhan ribu korban mati perang Vietnam dengan urutan kronologis. Dan itu sudah cukup untuk membawa para sisa-sisa perang untuk mengenang teman, saudara, anak, bapak, suami yang meregang nyawa dan mati di sana. Inilah memorial. Ketika salju menyapu Washington D.C., sang tembok hitam terbenam hingga cuma sejengkal muncul di permukaan. Pualam hitam dengan nama-nama. Seperti kuburan yang kelam. Nama-nama untuk dibaca, disentuh.

Kejujuran. Betapa terkejutnya tim juri ketika tahu bahwa Maya Lin hanyalah seorang anak ingusan 21 tahun. Dan sungguh Maya kaget, ketika delegasi formal serba sopan datang ke tempatnya, asrama mahasiswi, memberi kabar tentang terpilihnya desain Vietnam Veteran Memorial-nya. Terlepas dari kemudian karya itu menjadi kontroversi dengan diberi muatan politis aneka macam: boikot dari sejumlah artis politis yang merasa lebih artis. Konservatisme ala Pat Buchanan yang keterlaluan sehingga melempar isu bahwa komunisme melanda jejeran dewan juri. Atau pemaksaan komposisi yang sok tahu sekali: sebaiknya tembok ini diberi aksen patung serdadu. Sampai kepada penolakan dengan alasan yang paling biadab: "She is a she" dan "She is an Asian". Toh, ketika Maya diminta memberi kata-kata di podium, dia dengan terbata-bata hanya berkata lirih: "Ini bukan memorial perang. Bukan tentang senjata dan pembunuhan. Bahkan bukan buat politik dan kontroversi. Ini buat Anda, para laki-laki dan perempuan. Yang punya hak untuk mengenang. Untuk tidak lupa kepada saudara-saudara yang lain". Bahkan dengan jiwa besar dia sengaja mengenyampingkan serangan rasial terhadapnya.

Menyikapi puisinya Pram seperti menyentuh temboknya Maya. Ini kisah-kisah tentang jernihnya anak muda melihat dunia. Sekalipun dunianya terpaksa kelam dan sedih adanya. Maya hanyalah anak kecil, putri seorang imigran yang kebetulan suka dengan seni dan matematika. Pram hanyalah seorang mahasiswa teknik yang kebetulan menyaksikan kawan-kawannya dibantai. Satu kesamaan di antara mereka, kejujuran. Celakanya, ketika kejujuran berusaha diterjemahkan oleh para orang "dewasa", para penguasa dan politisi tanggung, dia tidak jujur lagi. Dalam kasus Maya, penguasa ikut campur dan minta supaya tembok itu jangan hitam tapi putih, sehingga tidak muram, begitu alasannya. Dan sebaiknya diberi patung yang jelas berbentuk manusia dalam pakaian perang. Contoh hegemoni sekaligus kekerdilan orang "dewasa" yang menghalalkan segala cara --untuk tidak ikut-ikut menyebut pemerkosan seni. Dalam kasus puisi Pram, lebih umum lagi: kasus mahasiswa Indonesia, sejarah mereka sekarang tengah dimanipulir dan diperebutkan sebagai credit-point untuk menang Pemilu.

Bersyukurlah kita semestinya karena semangat muda, bersih, dan jujur masih ada di bangku-bangku dalam ruang kelas. Jangan lagi ditunggangi atau diperalat. Toh mereka yang duduk di bangku-bangku itu juga tidak kemaruk kekuasaan. Bangku-bangku mereka tidak perlu menjadi "kursikursi". Perkecualian selalu ada, tentunya. Ada juga yang turun ke jalan memang karena malas sekolah. Ada yang teriak-teriak karena membayangkan bisa jadi menteri seperti banyak mantan aktivis tempo dulu. Tapi perkecualian itu bukan alasan untuk memanipulasi keringat dan ide mereka. Maka mau menang, menanglah dengan jujur.

Indonesia, suka tidak suka, seperti pengelana di persimpangan jalan -- untuk tidak kasar menyebut anak muda akil balik. Tidak ada kata yang lebih tepat menjelaskan sikap politik saat ini kecuali kebingungan. Kita heran, mengapa akil balik yang bingung tidak sejujur yang diharapkan? Sempat euforia kemenangan membawa harapan yang jelas dengan calon-calon pemimpin yang menjanjikan. Mengapakah kemudian para bakal pemimpin itu menjadi begitu kompleks dan membingungkan? Jamak sekali dalam partai -- yang jumlahnya menimbulkan ide dijadikan komoditi ekspor itu, para pimpinannya lebih suka bermain sendiri sembari sibuk melempar kesalahan kepada orang lain, bahkan kepada kawan sendiri. Atau kalau lagi malas, sekalian mogok bicara saja, dan biarkanlah para pendukung sibuk main teka-teki silang. Apa memangkah kita belum siap untuk menang? Satukosong buat Soeharto, kalau begitu. Bahkan mungkin sekali, banyakkosong. Sayang sekali.

Dalam keadaan seperti ini, tidak bakal ada yang mau mengalah. Yang bersedia menyingkir justru lagi-lagi Pram-Pram dan Maya-Maya. Sesuatu yang bisa dikenang dan bisa mengakrabkan dengan spirit sejarah sudah cukup bagi mereka. Tapi tidak demikian halnya dengan bapak-bapak" dan "ibu-ibu" mereka. Coba, seandainya ABRI mau kasih jalan sedikit saja. Tentu baguslah jika banyak jenderal yang gagah berani masuk ke politik dan membangun negara, tapi apakah tidak lebih baik tanpa pistol dan senapan di tangan, Pak? Dwifungsi adalah hapalan PMP yang sekarang menjadi abu-abu sekali. Hidup adalah memilih. Dan susah sekali optimal di dua hal yang berbeda. Di lain baris, alangkah bagusnya jika persatuan para pemimpin, atau paling tidak para mengaku pemimpin, tidak saling menggunting dalam lipatan. Bisa membuat orang banyak menjadi bingung rasa-rasanya bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Champaign, 1998