Seorang anak kecil, sesak karena asma, tenggelam dalam sebuah buku tebal. Das Kapital, Marx-Engels. Di sebelahnya, baru selesai dia baca, psikoanalisis Freud. Yang terakhir ini lebih menarik baginya. Dia tidak suka politik, sekalipun sang ibu adalah aktivis anti Peron. Asma ini terlalu mengganggu baginya, sehingga dia memutuskan untuk mempelajari penyakitnya. Dan, memang dia, beberapa tahun kemudian, tekun belajar sebagai mahasiswa kedokteran di universitas Buenos Aires. Dia menjadi dermatologis. Tapi bukan dermatologis thok. Kehidupan mahasiswa hanya dengan buku dan kelas adalah kegagalan. Dia tidak mau itu terjadi padanya.
Maka di sela-sela kuliah dan antar ujian, dia berkelana keliling negeri. Menyentuh tanah, melihat kesedihan. Serta juga membaca buku paling penting bernama Kehidupan. Dijamahnya Argentina, Chile, Kolombia, Peru, dan Bolivia. Dikenalnya Salvador Allende, karib sekaligus guru dan majikannya.
Pemuda itu idealis. Sosialis Guatemala menawarkan posisi penting kepadanya. Dia menolak, karena dia tahu praktek presiden Arbenzs menyimpang dari buku Marx dan Lenin-nya. Dia menolak bergabung dengan Partai Komunis. Dia lebih suka kawin dengan Hilda, seorang Indian yang membawanya berkenalan dengan Fidel Castro di Kuba. Castro terkesan, sebuah masa depan yang cemerlang sekali. Tapi itulah Che, ditinggalkannya Castro, hanya karena Castro terlalu naif dengan konsep komunismenya. Komunisme bukan seperti itu, kata Che. Selamat tinggal.
Terlalu banyak orang yang membaca Marx. Dan terlalu banyak yang salah kaprah. Che sedih, dia ingat bahwa Marx pernah berkesah: "Saya bukan Marxis". Marx bukan Marxis. Dengan segala kekecewaan, Che memutuskan mengabdikan diri kepada flamboyanisme. Che tinggal kenangan. Atau romantika bagi sebagian pengagumnya. Kini, orang masih ribut tentang komunisme. Juga di sebuah negara ekstra sosialis, Indonesia. Che-che sebenarnya banyak di kampus-kampus Jakarta. Hanya, fasisnya pemerintah dua kali lipat beratnya daripada
Peron musuh Che Asli. Dan kebenaran sungguh jauh di bawah tapak sepatu. Bagaimana mungkin mau belajar dan menyentuh kehidupan yang sesungguhnya?
Indonesia bukan salah satu negara latin itu. Indonesia lebih kompleks, dan lebih susah. Jika Che harus besar dan tumbuh di Indonesia. Misalnya jadi dokter lulusan UI tapi ekskul di PRD, dan kontroversial anti-PKI, mungkin ceritanya lebih berbunga. Mungkin romantikanya lebih biru. Tapi, jika Che besar dan tumbuh di Indonesia, kecewanya mungkin lebih dalam, sehingga asmanya merenggutnya lebih cepat. Karena tokoh-tokoh yang bagus, pada akhirnya berkelahi sendiri. Pram dan GM adalah Havel dan Kundera. Saat ini kata "dan" telah berubah menjadi "versus". Bedanya, hanya satu dari keempat nama itu yang jadi Presiden. Niscaya, Che pasti bingung. Asma itu terlalu mengganggu baginya. Sekalipun Sartre bereulogi untuknya: Bahwa Che adalah manusia paling lengkap.
Sartre salah.
Champaign, 2000
Jumat, 09 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar