Jumat, 09 Mei 2008

Insomnia (2002)

Waktu adalah ketakpastian, tulis J. Nolan dalam cerpennya di majalah Esquire, "Memento Nori". Cerpen yang unik, tentang seorang Earl yang berdialog dengan dirinya, atau tepatnya dengan memorinya. Christopher Nolan, terinspirasi oleh cerpen saudaranya, menulis adaptasi akan cerpen itu dan memfilemkannya menjadi "Memento" (2001), dengan plot yang sungguh sophisticated. Tentang seorang Lenny yang kehilangan kemampuan menyimpan memori jangka panjang baru (a.l. bagaimana dan siapa yang membunuh istrinya), sekalipun tetap mampu mengingat memori jangka panjang yang lama (istrinya dibunuh).

Tapi catatan ini bukan tentang Memento, melainkan filem Chris Nolan yang baru, "Insomnia" (2002), sebuah adaptasi atas filem Norwegia dengan judul yang sama dari sutradara Erik Skjoldbjaerg (1997). Ketika saya menonton Insomnia-nya Nolan, ternyata bukan hanya Insomnia-nya Skjoldbjaerg yang selalu memaksakan komparasi kognitif di dalam kepala saya. Tetapi juga Memento. Yang pertama lebih kepada pengamatan akan apa ditawarkan oleh "remake" Nolan: apakah klise dan mengecewakan sebagaimana sebagian besar remake Hollywood (mis., Psycho). Atau lebih bagus. Yang kedua lebih kepada kerinduan akan sofistikasi dan kejutan-kejutan Nolan sebagaimana halnya dalam Memento. Dan tampaknya Insomnia-nya Nolan berada di tengah-tengah. Ia, setidaknya bagi saya, sama dengan atau sedikit lebih kuat daripada Insomnia-Skjoldbjaerg, namun sedikit di bawah Memento. Apakah ini sebab Nolan harus berkompromi dengan dunia Hollywood (produser eksekutifnya adalah George Clooney dan Steven Sorderbergh - tidak heran, ia memakai "terlalu banyak" bintang, ingat "Ocean's Eleven"), entahlah.

Kalau di "Memento" Chris mengembangkan skrip berdasarkan cerita Jonah, maka di "Insomnia", ia mengundang penulis skrip versi asli, Nicolaj Frobenius dan Skjoldbjaerg untuk memberi masukan kepada Hillary Seitz yang lalu menjadi penulis utama skrip untuk Insomnia baru ini. Dan Seitz, sekalipun ini adalah skrip filem pertamanya, melaksanakan tugasnya dengan
baik (atau "lebih mudah"?). Ia menjadikan plot Insomnia menjadi lebih berwarna (atau "lebih populer"?). Tambahan, Seitz menaikkan level "kerumitan" Insomnia-Skjoldbjaerg dalam Insomnia-Nolan. Hal yang bisa berakibat baik dan jelek sekaligus. Insonmia-Skjoldbjaerg adalah sebuah gambaran kerumitan psikologis seorang polisi insomniak (Stellan Skorsgard; Breaking the Waves). Insomnia-Nolan adalah filem triller dengan tokoh utama seorang polisi insomniak (Al Pacino; Scent of a Woman). Baik Skorsgard maupun Pacino bermain dengan memukau.

Bedanya, Skorsgard lebih berwarna ketimbang Pacino. Skorsgard adalah polisi brilian, arogan, dan seksual. Pacino adalah polisi brilian -itu saja. Tapi Pacino lebih berhasil mewakili seorang penderita insomnia: dalam determinasinya yang tinggi, tatap matanya tampak jelas merindukan tidur, bukan hanya gesturnya. Keduanya berhasil membawakan tema utama kedua Insomnia
ini: "Even the best makes mistake".

Cerita berkisar kepada pembunuhan seorang gadis remaja (17 tahun di Nolan, 15 tahun di Skjoldbjaerg) oleh seorang psikopat penulis buku (Robin Williams di Nolan; Bjorn Floberg di Skjoldbjaerg). Dalam upaya menangkap pembunuh ini, polisi senior Dormer (Pacino) melakukan kesalahan: menembak partner-nya sendiri. Celakanya, sang pembunuh menyaksikan kejadian tersebut. Ia lalu memanfaatkan keadaan ini untuk memeras si polisi. Tinggalkan kasus pembunuhan ini, atau ia membocorkan peristiwa itu, dan dengan demikian menghancurkan reputasi Dormer ynag telah melegenda.

Sebuah plot yang sederhana (sungguh jauh dari Memento). Hanya saja, pergulatan psikologis dalam kepala si polisi menjadi sangat menarik. Filemnya Nolan lebih berhasil membawa kepada konundrum apakah Dormer sebaiknya mengaku saja, atau tidak -- toh itu adalah sebuah kecelakaan tragis nan konyol. (Dalam Skjoldbjaerg kita mungkin langsung menggugat: mengapa
ia tidak mengaku saja?). Kelebihan Nolan ini mungkin ditunjang oleh improvisasi Seitz yang menjadikan seorang polisi junior Ellie Burr (Hilary Swank) sebagai pemuja Dormer. Karakter Burr membantu penokohan Dormer menjadi lebih jelas (hitam putih tidak berarti kabur!). Hanya saja, Swank (Boys Don't Cry) sendiri tidak berkembang. (Justru, Maura Tierney-nya serial tivi E.R., yang memerankan klerek hotel tempat Dormer menginap, bermain lebih bagus
daripada Swank, sekalipun dengan airtime terbatas sekali). Dalam filemnya Skjoldbjaerg, polisi
rookie-nya bukan pemuja fanatik sang polisi senior, sehingga tidak memberi ruang yang cukup untuk memanfaatkan karakter ini dalam menerangkan pribadi Engstrom (nama polisi di Skjoldbjaerg).

Kelebihan lain dari filem Nolan adalah fotografi. Dikerjakan oleh Wally Pfister (Memento), ia memberikan gambar-gambar yang selalu mengingatkan bahwa filem ini berjudul Insomnia. Gambar Al Pacino menempelkan lakban ke tirai jendela untuk menghalangi sinar matahari
tengah malam (ingat, ini Alaska) menjadi lebih berbicara, ketimbang adegan yang sama oleh Skarsgard di filem aslinya. Nolan juga masih memakai Dody Dorn dari Memento untuk mengedit filem ini. Yang juga menarik, pemilihan opening title sunnguh cerdas: huruf-huruf yang setengah kabur dan tumpang tindih, seolah dilihat oleh mata seorang insomniak).

Tetapi. Bagi penggemar film-noir, jangan terkejut: Insomnia-nya Skjoldbjaerg lebih gelap ketimbang punya Nolan. Dengan kata lain, percaya atau tidak, Insomnia-Skjoldbjaerg lebih "Memento" ketimbang Insomnia-Nolan. Sekalipun skrip Seitz sangatlah apik, bau Hollywood menjadikannya lebih "gemerlap daripada yang seharusnya". Dalam hal ini, "Mulholland Dr" lebih
unggul.

Terakhir, bagi fan(atik) Memento, jangan mencak-mencak, mengapa Al Pacino tidak sebermasalah Guy Pearce, secara psikologis (dan/atau kognitif). Toh, ada ironi yang cantik di sini. Tokoh amnesiak dalam Memento menderita masalah mengembalikan memori. Sedangkan tokoh insomniak dalam Insomnia sungguh ingin terlepas dari memorinya, memori akan kesalahannya melaksanakan tugas. Bahkan, seorang kawan saya bergumam: "Yang dibutuhkan Dormer adalah amnesia, bukan insomnia. Seandainya ia adalah Leonard Shelby..."

Urbana, 2002

Tidak ada komentar: