Jumat, 09 Mei 2008

The Color of Paradise (Majid Majidi) (2000)

Muhammad nama anak laki-laki buta itu. Dari keluarga miskin yang ditinggal mati ibunya. Bapanya seorang pekerja kasar di desa yang selalu gelisah dengan kesendirian serta selalu terganggu oleh ketidakpercayaan dirinya sebagai tiang keluarga: Muhammad, Bahareh, Hanieh, dan sang nenek tua. Muhammad dititipkan di sekolah sosial untuk anak buta di kota. Kedua saudara perempuannya cukuplah bersekolah di desa, sekolah untuk anak normal. Sang nenek bertani dan beternak ayam. Potret keluarga manusiawi di sebuah desa miskin namun berbunga indah dan berkupu-kupu, warna-warni, warna surga.

Persoalan dimulai ketika sekolah Muhammad memasuki masa libur panjang. Semua murid harus pulang ke rumah masing-masing, karena guru pun perlu libur dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Satu per satu teman sekolah Muhammad dijemput oleh keluarga mereka. Hingga tinggallah Muhammad. Tanpa penjemput, tanpa keluarga. Ia menangis. Dalam tangis itu, Muhammad mendengar tangisan lain. Dari seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya, dan celakanya belum bisa terbang. Muhammad menghentikan tangisnya. Dia tahu, bahwa ada tangis lain yang lebih berhak atas perhatian Tuhan. Dengan segala daya dan kebutaannya, hanya mengandalkan pendengaran dan hatinya, Muhammad mengembalikan anak burung itu ke sarangnya, di atas pohon.

Seorang lelaki tua dengan mata tipis harapan menghampiri. Ia bapa Muhammad. Waktunya sekarang untuk menjemput sang anak. Namun, datanglah keraguan dalam dada si bapa. Bagaimana saya harus memelihara anak buta ini? Apakah saya mampu? Apakah dia nantinya bisa mandiri? Setelah permintaannya kepada guru --agar Muhammad dititipkan saja di sekolah itu selamanya-- ditolak, si bapa terpaksa membawa pulang Muhammad ke desa. Menuju kehidupan yang bertambah keras, oleh tambahan satu beban. Beban yang buta pula.

Dan Muhammad. Apa yang diketahui seorang anak kecil buta tak berdosa itu? Dia berlari-lari kecil di sepanjang pematang sawah --terkadang jatuh-- tak sabar menemui kakaknya tersayang Bahareh, adiknya tercinta Hanieh, dan terutama neneknya yang terkasih, Azizah. Ia telah menyiapkan bingkisannya sejak lama. Kalung tutup botol buat adik, sisir plastik buat kakak, dan
gunting kuku warna merah, hadiah juara di kelas, untuk nenek. Kebahagiaan dan kehangatan di pojok desa kecil akan datangnya aku, laki-laki keluarga. Dia bahagia. Dia lupa akan butanya. Ketika diremasnya tangan neneknya, dia berkata: "Nek, bagaimana kamu bisa punya tangan seputih ini?". Berderai air mata, Azizah menjawab, "Muhammad, ketahuilah, tangan Azizah hitam oleh umur, jelek oleh cuaca". Muhammad tidak menerima, "Tidak mungkin. Tanganmu halus sekali" [kamera berfokus kepada tangan Muhammad --kecil dan halus, mengusap tangan azizah --tua, keriput, kurus].

Burung-burung bernyanyi, mengiringi cinta di antara dua manusia itu. Tetapi, warna-warna tidak abadi. Bapa semakin gelisah akan penghasilannya yang sangat minim dan kewajibannya
menghidupi keluarga. Dan, oh, hatinya tertambat kepada seorang janda di desa sebelah. Menikahi sang kasih tidaklah semudah mengangkat karung arang atau membelah pohon sebagaimana pekerjaannya sehari-hari. Tabungannya tidak ada, penghasilannya selalu kurang.
Tapi, oh. Haruskah aku hidup begini selamanya? Maka si laki-laki tua berkeputusan: melamar. Dengan segala ketakadaan, mahar dia sediakan. Dan, demi sedikit mengurangi tanggungan, Muhammad harus di"titipkan" kembali.

Nenek dan kedua saudara Muhammad protes keras. Mereka tidak rela Muhammad dijauhkan
lagi dari keriaan keluarga miskin itu. Muhammad pun begitu. Dia merasakan kebahagiaan bersama nenek yang mengasihinya. Dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah normal di desa bersama saudaranya. Dia bisa "melihat" warna-warna surga di desa itu. Tapi tidak demikian
dengan bapanya. Dalam kelengahan nenek, bapa memaksa membawa Muhammad ke desa lain. Ia dititipkan ke tukang kayu tunanetra. Disuruh bekerja agar kelak bisa mandiri. Maka, dari
mata buta yang kecil itu, kembali mengalir air...

Dengan hilangnya Muhammad, warna menjadi gelap. Nenek sakit dan akhirnya mati. Bahareh dan Hanieh sedih dan menangis merindukan saudaranya. Bapa dilanda sesal, apalagi setelah lamarannya dibatalkan. Lelaki tua itu tak berdaya. Menangis meraung. Ia rindu pada Muhammad. Dan, bapa kembali menjemput Muhammad. Tanpa uang buat bayar bis, ia memutuskan naik kuda. Dalam perjalanan pulang dengan Muhammad di atas kuda itu, jembatan kayu ambruk. Muhammad dan kuda hanyut di tengah arus deras sungai dan hujan yang marah. Si bapa tertegun melihat anaknya ditelan alam. Ia melompat.

Tapi apalah daya seorang tua peragu. Ia pun hanyut... Ketika bangun, ia mendapati diri di sebuah pantai sepi dengan burung-burung di atas memandang. Dan di sana. Di sana ada tubuh Muhammad. Mati. Dia, si bapa, berlari menjemput anaknya. Dipeluknya dalam tangis tak berkesudahan... [fokus kamera pindah ke tangah Muhammad, bercahaya, bergerak kemudian tamat....]

Chicago, 2000

Tidak ada komentar: