Jumat, 09 Mei 2008

Waktu (2000)

temanku, hari ini waktu mundur. sedikit aneh
rasanya. seolah-olah ditarik oleh sebuah tangan besar,
untuk perlahan-lahan maju kembali. padahal, matahari masih
tetap yang dulu itu. ilusi. iya, ilusi yang membuat
semuanya seolah lain. dan ilusi adalah sebuah candu.
ketika kau berilusi, betapa ingin rasanya untuk
terus dalam ilusi. begitu yang terjadi beberapa jenak
padaku pagi ini. aku ingin agar ilusi itu terus abadi.
bahwa waktu senantiasa membawa mundur ketika langkah
semakin tak terkendali.
aku berjalan di tengah lapangan kampus. angin
rupanya tidak mengerti akan makna ilusi. ia tetap saja
berpacu di antara sesamanya. lewat di sisi belakang
telingaku.
meniup rambutku yang gerai. angin itu membawa
cerita. tentang seorang pencuri yang dihukum seumur hidup.
"ia mencuri hati seorang perempuan muda. dibawanya
menelusuri sungai bertutup salju sampai hutan
belantara. dari sudut kota nagoya hingga jembatan
san francisco. dari hari-hari dunia yang sibuk. hingga
malam-malam dingin serta hujan. kemarin pencuri itu
tertangkap. pengadilan memutuskan ia bersalah. kini
hati dikembalikan kepada perempuan muda. dan pencuri
itu mendekam di sel dingin. menatap lantai. tak bisa
menangis, karena hatinya telah dirampas. oleh
pengadilan". aku terus berjalan. beberapa daun jatuh
ke pundakku.
aku memikirkan cerita yang dibawa oleh angin itu.
mengapa keadilan bisa demikian tiran. ataukah si
pencuri hanya seorang pecundang. yang celaka tidak
baca chairil anwar. "bahkan dengan cermin aku enggan
berbagi". aku tidak mengerti mengapa si pencuri,
yang bisa mencuri, tidak bisa berkelahi. untuk
mempertahankan hati itu.
"bacalah bibirku. sebab aku tak bicara".
begitu, aku ingat nadine gordimer. aku
terus berjalan.
ah, lupakan saja cerita omong kosong itu. aku sedang
menikmati berhentinya waktu. sekalipun hanya ilusi.

urbana, 2000, ketika manusia tunduk kepada waktu.

Tidak ada komentar: