espresso cafe, pagi menjelang kelas. aku masih galau akan ujian kemarin. selalu begitu. ketika kau ujian, dan sadar bahwa apa yang kamu kerjakan salah namun sudah terlambat, maka beginilah jadinya. seakan waktu mau kau lipat-lipat seperti jam loyonya salvador dali. agar bisa kembali ke ruang kelas, menghapus yang salah lalu menorehkan yang benar. seperti hidup yang
diimpikan dan tak pernah menjelang.
cinnamon rolls dan cafe espresso. selalu menjadi solusi akan gundah senin pagi. namun tidak cukup tanpa gary moore. ritual, sebelum bisa semangat kembali dengan segala tugas dan pekerjaan rumah. yang kadang menjadi begitu membosankan. sekali dua kau bisa kelabui dan, sebaliknya, malah bercinta dengan buku-buku tua di lantai delapan yang pengap. melahap sejarah, menelan budaya. tak kau muntahkan kembali seperti kalkulus atau mekanika kuantum. bertumbuh kau dengan naskah tua raja ali haji sampai dokumen asli marcopolo. atau tersuruk di sudut departemen filem menongkrongi bergman, hitchcock, atau satyajit ray. lalu tertawa akan kegenitan simon west yang telah membunuh masa depan angelina jolie. selalu begitu. jika tidak, kau biarkan jejarimu berdarah oleh senar gitar. tangan yang kecil.
aku teringat mcveigh. mati muda dengan tiga suntikan. apa yang ada di pikiran kawan itu. i am the master of my fate, the captain of my soul. damailah dalam matimu, sahabat. aku simpan suratmu. bahwa kau bom mereka sebagai tanda protesmu akan kemunafikan. akan standar ganda. selalu begitu. juga ketika kulitmu berubah kuning sekalipun matamu menatap tajam menusuk. betapa mayanya usia.
mengapa, malam minggu bukan setiap hari. begitu protes seorang kawan. hedonis. yeah, fine, like you don't get drunk on thursday and friday, you bitch, kata kawan lain. dua gegadis tanpa suratkabar dalam hidup mereka. betapa aneh ketika seorang dosen muda mendekat, mereka bertanya. are you a democrat or a rep? dalam cangkir kedua, aku melayang ke sawah. masa kecil yang masih di jendela. dengan nenek yang masih hidup, mengajar memegang batang padi yang betul. mematahnya dan menjadikannya suling. menjadikan sebuah sore di kampung sebagai potret dalam filem. dengan pemandian air hangat. sumur tua bikinan belanda. aku ingin
kembali. ibu.
sindroma senin pagi pasca ujian minggu sebelumnya. begitu mungkin, kalau pakar psikologi menulis ini di kolomnya. sama saja, ditulis atau tidak. ketika hamzah merajalela di arena badr, atau bima di kurusetra, atau sulingmas di detikdotkom. sama saja. ada darah, ada gundah. dan ketika kopimu habis, kamu kembali melangkah. menuju kelas. untuk seminggu lagi, sebelum ritual yang sama. angin menyentuh di belakang telingamu, pelan.
green street, 2001
Jumat, 09 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar