Jumat, 09 Mei 2008

Pramudya dan Maya Lin (1998)

Dalam kering dan susahnya salut kepada gerakan mahasiswa, kiriman email dari rekan Chatib Basri sungguh mengingatkan kembali akan gagah beraninya mahasiswa tahun lalu. Email itu tentang dan dilampiri puisi, tulisan seorang mahasiswa Trisakti, Pramudya Wardhana saat terjadi tragedi Trisakti setahun lewat. Kita baca sedikit:

kami berdiri di depan wajah-wajah keras aparat
tegang berpeluh bersama-sama
bunga mawar kami selipkan di baju anti pelurumu
cinta dan kasih kami selipkan dihatimu
semua terjatuh di aspal panas
sore itu langit disaput mendung
matahari temaram
dan Tuhan pun bermuram durja
satu tembakan dan semua terjadilah
mereka berlari menghampiri kami dengan ayunan pentungan
tembakan peluru karet dan gas air mata
kami tercerai berlari memasuki kampus
korban pertama pun jatuh

Sebuah reportase yang sangat masuk akal, oleh saksi mata yang tidak mengada-ada. Tidak ada puisi yang lebih bagus daripada kejujuran. Dan kejujuran Pram Wardhana sungguh membuat hati meringis. Mungkin bukan buat komoditi kolom puisi di majalah populer, tapi jelas adalah memorial yang lebih pas daripada tugu pahlawan manapun.

Memorial. Saya terkenang Dr. Maya Lin, seorang arsitek, artis, desainer, sekaligus pematung ajaib lulusan Yale University. Tahun 1980, dalam usianya yang 21 tahun, Maya Lin, mahasiswi undergraduate Arsitektur di Yale menjadi pemenang kontes desain memorial perang Vietnam yang diadakan persatuan para veteran perang Vietnam, atau apalah namanya. Karyanya terpilih dari lebih 14 ribuan kontestan. Mengalahkan ratusan artis terkenal, ratusan perancang memorial yang sudah punya nama di berbagai negara. Mengapakah?

Kejujuran. Karya Maya Lin bukan berupa patung tiga serdadu berjalan pincang dengan salah satunya pegang bendera. Bukan berupa helem pecah berdarah di sebelah sepatu laras sobek dengan jari manusia masih tersisa. Yang dibuat Maya Lin adalah pualam hitam berbentuk bumerang patah, muncul dari tanah. Seperti patahan bumi karena kemarahan Tuhan. Di situ tertuliskan nama puluhan ribu korban mati perang Vietnam dengan urutan kronologis. Dan itu sudah cukup untuk membawa para sisa-sisa perang untuk mengenang teman, saudara, anak, bapak, suami yang meregang nyawa dan mati di sana. Inilah memorial. Ketika salju menyapu Washington D.C., sang tembok hitam terbenam hingga cuma sejengkal muncul di permukaan. Pualam hitam dengan nama-nama. Seperti kuburan yang kelam. Nama-nama untuk dibaca, disentuh.

Kejujuran. Betapa terkejutnya tim juri ketika tahu bahwa Maya Lin hanyalah seorang anak ingusan 21 tahun. Dan sungguh Maya kaget, ketika delegasi formal serba sopan datang ke tempatnya, asrama mahasiswi, memberi kabar tentang terpilihnya desain Vietnam Veteran Memorial-nya. Terlepas dari kemudian karya itu menjadi kontroversi dengan diberi muatan politis aneka macam: boikot dari sejumlah artis politis yang merasa lebih artis. Konservatisme ala Pat Buchanan yang keterlaluan sehingga melempar isu bahwa komunisme melanda jejeran dewan juri. Atau pemaksaan komposisi yang sok tahu sekali: sebaiknya tembok ini diberi aksen patung serdadu. Sampai kepada penolakan dengan alasan yang paling biadab: "She is a she" dan "She is an Asian". Toh, ketika Maya diminta memberi kata-kata di podium, dia dengan terbata-bata hanya berkata lirih: "Ini bukan memorial perang. Bukan tentang senjata dan pembunuhan. Bahkan bukan buat politik dan kontroversi. Ini buat Anda, para laki-laki dan perempuan. Yang punya hak untuk mengenang. Untuk tidak lupa kepada saudara-saudara yang lain". Bahkan dengan jiwa besar dia sengaja mengenyampingkan serangan rasial terhadapnya.

Menyikapi puisinya Pram seperti menyentuh temboknya Maya. Ini kisah-kisah tentang jernihnya anak muda melihat dunia. Sekalipun dunianya terpaksa kelam dan sedih adanya. Maya hanyalah anak kecil, putri seorang imigran yang kebetulan suka dengan seni dan matematika. Pram hanyalah seorang mahasiswa teknik yang kebetulan menyaksikan kawan-kawannya dibantai. Satu kesamaan di antara mereka, kejujuran. Celakanya, ketika kejujuran berusaha diterjemahkan oleh para orang "dewasa", para penguasa dan politisi tanggung, dia tidak jujur lagi. Dalam kasus Maya, penguasa ikut campur dan minta supaya tembok itu jangan hitam tapi putih, sehingga tidak muram, begitu alasannya. Dan sebaiknya diberi patung yang jelas berbentuk manusia dalam pakaian perang. Contoh hegemoni sekaligus kekerdilan orang "dewasa" yang menghalalkan segala cara --untuk tidak ikut-ikut menyebut pemerkosan seni. Dalam kasus puisi Pram, lebih umum lagi: kasus mahasiswa Indonesia, sejarah mereka sekarang tengah dimanipulir dan diperebutkan sebagai credit-point untuk menang Pemilu.

Bersyukurlah kita semestinya karena semangat muda, bersih, dan jujur masih ada di bangku-bangku dalam ruang kelas. Jangan lagi ditunggangi atau diperalat. Toh mereka yang duduk di bangku-bangku itu juga tidak kemaruk kekuasaan. Bangku-bangku mereka tidak perlu menjadi "kursikursi". Perkecualian selalu ada, tentunya. Ada juga yang turun ke jalan memang karena malas sekolah. Ada yang teriak-teriak karena membayangkan bisa jadi menteri seperti banyak mantan aktivis tempo dulu. Tapi perkecualian itu bukan alasan untuk memanipulasi keringat dan ide mereka. Maka mau menang, menanglah dengan jujur.

Indonesia, suka tidak suka, seperti pengelana di persimpangan jalan -- untuk tidak kasar menyebut anak muda akil balik. Tidak ada kata yang lebih tepat menjelaskan sikap politik saat ini kecuali kebingungan. Kita heran, mengapa akil balik yang bingung tidak sejujur yang diharapkan? Sempat euforia kemenangan membawa harapan yang jelas dengan calon-calon pemimpin yang menjanjikan. Mengapakah kemudian para bakal pemimpin itu menjadi begitu kompleks dan membingungkan? Jamak sekali dalam partai -- yang jumlahnya menimbulkan ide dijadikan komoditi ekspor itu, para pimpinannya lebih suka bermain sendiri sembari sibuk melempar kesalahan kepada orang lain, bahkan kepada kawan sendiri. Atau kalau lagi malas, sekalian mogok bicara saja, dan biarkanlah para pendukung sibuk main teka-teki silang. Apa memangkah kita belum siap untuk menang? Satukosong buat Soeharto, kalau begitu. Bahkan mungkin sekali, banyakkosong. Sayang sekali.

Dalam keadaan seperti ini, tidak bakal ada yang mau mengalah. Yang bersedia menyingkir justru lagi-lagi Pram-Pram dan Maya-Maya. Sesuatu yang bisa dikenang dan bisa mengakrabkan dengan spirit sejarah sudah cukup bagi mereka. Tapi tidak demikian halnya dengan bapak-bapak" dan "ibu-ibu" mereka. Coba, seandainya ABRI mau kasih jalan sedikit saja. Tentu baguslah jika banyak jenderal yang gagah berani masuk ke politik dan membangun negara, tapi apakah tidak lebih baik tanpa pistol dan senapan di tangan, Pak? Dwifungsi adalah hapalan PMP yang sekarang menjadi abu-abu sekali. Hidup adalah memilih. Dan susah sekali optimal di dua hal yang berbeda. Di lain baris, alangkah bagusnya jika persatuan para pemimpin, atau paling tidak para mengaku pemimpin, tidak saling menggunting dalam lipatan. Bisa membuat orang banyak menjadi bingung rasa-rasanya bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Champaign, 1998

Tidak ada komentar: